وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.”(QS. an-Nisaa: 14).
Perbuatan dosa adalah melanggar apa yang telah diharamkan Allah dan mengabaikan perkara yang sudah difardlukanNya. Setiap pelanggaran atas dua hal itu, apakah melanggar yang haram atau meninggalkan kewajiban, akan dihadapkan pada balasan siksa dari Allah Ta’ala. Di dunia dijanjikan kehidupan yang serba susah, di akhirat azab neraka menganga.
Meski apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas setiap perbuatan dosa adalah nyata, namun demikian sedikit sekali orang yang mau menerima peringatan tersebut. Kebanyakan manusia justru tidak peduli dengan perbuatan dosa. Mereka meremehkan kemaksiatan, malah sebagian lagi terang-terangan mengerjakan kemaksiatan.
Sebagian pelaku dosa ada yang melakukannya karena kebodohan/keawaman mereka. ketidaktahuan akan ajaran Islam membuat mereka tergelincir pada pekerjaan haram. Tidak sedikit muslim hari ini yang tidak tahu haramnya praktik riba, batasan ikhtilat (campur baur) antara pria dan wanita, haramnya menerima uang/hadiah berupa komisi, dsb. Akhirnya mereka terjerumus dalam perbuatan dosa. Orang-orang seperti ini sebenarnya bukan karena benar-benar awam, tapi karena kemalasan atau hawa nafsu mereka tidak mau mencari tahu batasan halal dan haram. Padahal Allah telah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(QS. al-Isra: 36).
Namun ada pula yang berbuat maksiat padahal sudah mengetahuinya. Mereka juga mengerjakannya dengan terang-terangan. Bahkan sebagian dari mereka dengan bangga menceritakan perbuatan keji itu kepada khalayak, bahwa mereka pernah begini atau begitu dalam perbuatan maksiat. Mereka inilah yang disebut oleh Nabi saw.:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Semua umatku selamat, kecuali yang terang-terangan berbuat dosa. Dan termasuk dari mujaharah (terang-terangan berbuat dosa) yaitu seorang yang berbuat dosa di waktu malam gelap, mendadak pagi-pagi diceritakan pada orang lain, padahal semalam itu Allah menutupinya, tetapi pagi-pagi ia membuka apa yang ditutupi Allah.”(hr. Bukhari, Muslim)
Lebih jauh lagi, ada sebagian muslim yang berani menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah. Maraknya minuman keras, pornografi, seks bebas, perbuatan syrik, perdukunan, dsb., adalah bagian dari perbuatan haram yang sekarang justru legal dan sah saja dikerjakan oleh khalayak.
Sebaliknya, mereka juga berani mengharamkan perkara yang sudah dihalalkan Allah, seperti nikah dini atau poligami. Bahkan ada yang berani mengharamkan perkara yang hukumnya wajib seperti ada perusahaan yang melarang karyawannya melaksanakan sholat Jumat, atau mencegah karyawatinya mengenakan jilbab dan kerudung, dengan alasan keamanan dan efesiensi kerja. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un.
Pelanggaran atas hukum Allah menjadi-jadi juga karena pelakunya merasa bahwa tidak ada masalah sedikitpun atas perbuatan mereka. Seolah menantang, mereka terus menerus mengerjakan perbuatan maksiat tanpa sedikitpun ada perasaan takut atas akibat hal tersebut.
Sebenarnya Allah tidak pernah sedikitpun lalai atas setiap perbuatan dosa hamba-hambaNya. Bila ada pelaku kejahatan yang seolah tidak mendapatkan dampak perbuatan mereka, sebenarnya Allah tengah mempersiapkan balasan atasnya. Firman Allah:
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”(QS. ali Imran: 188).
Jadi, jangan merasa tenang saat perbuatan dosa dikerjakan. Allah tidak akan pernah lupa atas setiap pelanggaran aturanNya. Sebagaimana juga Allah tidak melupakan amal soleh yang dikerjakan oleh hamba-hambaNya, meski itu sekecil biji dzarrah. Wallahualam.
No comments:
Post a Comment